Topik yang jadi trending topic hari ini adalah seputar kelulusan SMA. Ya..sebuah momen yang bisa dibilang bersejarah, karena lulus SMA cuma sekali seumur hidup, dan yang pasti membahagiakan karena berarti yang lulus masuk ke ranah kehidupan yang lebih tinggi, dan lebih mapan lagi, baik yang langsung bekerja maupun yang melanjutkan ke Perguruan Tinggi.
Pada liputan kelulusan, ada yang berbahagia karena lulus, ada juga yang sedih karena tidak lulus.
Namun demikian, saya heran pada sikap mereka yang lulus. Berikut adalah model-model selebrasi kelulusan ala Indonesia:
1. Tawuran
Momen yang dialami adalah kebahagiaan, sedangkan tawuran identik dengan pelampiasan kemarahan . Jadi? Mengapa memilih tawuran? Padahal bila sudah lulus lalu tawuran, lalu kena lemparan batu dan masuk rumah sakit atau yang paling bahaya adalah (maaf) meninggal, untuk apa?
2. Coret-coret Seragam
Di luar sana masih banyak siswa-siswi yang tidak punya seragam, bahkan ada diantara mereka yang diolok-olok temannya karena tidak punya seragam sekolah.
Sedangkan yang di tempat lainnya? Kok ya enak-enak saja coret-coret seragam? Pada salah satu liputan, bahkan ada seorang lulusan SMA (lulusan lho!) yang berkata:
"DARIPADA KAMI TAWURAN, LEBIH BAIK KAMI CORET SERAGAM!! SETUJU?!" soraknya bagai provokator.
Pernyataan tersebut menurut saya merupakan mentalitas (maaf) pengecut; mencari pembenaran padahal tahu yang dilakukan adalah salah.
Kan bisa seragamnya disumbangkan pada yang butuh.
3. Vandalisme
Vandalisme merupakan salah satu fenomena ketika orang ingin berekspresi, tapi dilarang-larang oleh yang tidak mencintai seni, sehingga hasrat berkarya berubah menjadi keputusasaan yang tidak terkendali. Mungkin dunia seni tidak dihargai di Indonesia (padahal setiap budaya mengagungkan keseniannya, tapi melarang-larang yang ingin berkiprah dalam bidang seni)
Saya jadi kepikiran..saat pengumuman kelulusan, sebaiknya dibuat satu booth atau papan khusus untuk coret-coret agar siswa puas da tidak mencoret yang lain, hahahaha...
Menurut saya ketiga hal tersebut terjadi karena kurangnya pegawasan dan pengenalan dari segenap pihak yang berperan. Mengapa saya menyebut semua pihak? Karena anak dibesarkan oleh banyak orang, tidak hanya oleh guru dan keluarga saja. Kesalahan yang sama dibiarkan dan tidak diberitahu yang benar, jadilah ketika rasa penasaran memuncak, hal-hal yang tidak baik yang dilakukan.
Intinya, kelulusan adalah terminal menuju ranah yang lebih tinggi. Patut disyukuri pastinya. Tapi cara untuk bersyukur ada yang lain kok yang lebih baik :)
No comments:
Post a Comment